Jurnalis Tak Akan Digantikan AI, Justru Semakin Dibutuhkan sebagai “Penjaga Makna”
JAKARTA, UBN Newsroom – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap memicu kecemasan massal di industri media. Kemampuan AI dalam menulis artikel kilat, merangkum dokumen tebal, hingga merekayasa visual secara realistis memicu pertanyaan besar: Apakah profesi jurnalis akan segera punah?
Namun, sudut pandang tersebut dinilai keliru. Dalam kajian bertajuk “AI, Islam, dan Jurnalisme” yang disampaikan di UBN Newsroom, Jumat (12/6/2026), pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menegaskan bahwa kehadiran AI justru menjadi momentum krusial yang membuat peran jurnalis jauh lebih penting dari sebelumnya.
“Ketika semua orang bisa membuat berita, jurnalisme harus naik kelas menjadi penjaga makna,” tegas Ismail Fahmi.
Banjir Informasi: Tantangan Baru Dunia Modern
Ismail menjelaskan bahwa masalah utama hari ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan melimpahnya informasi tanpa kendali (kebisingan informasi).
-
Dampak AI: Membuat produksi konten menjadi jauh lebih murah, cepat, dan masif.
-
Sisi Gelap: Membuka ruang bagi penyebaran hoaks, propaganda, dan konten manipulatif tingkat tinggi seperti deepfake yang sulit dibedakan dari realitas.
-
Solusi: Publik sangat membutuhkan institusi tepercaya yang berfungsi sebagai kompas moral untuk memisahkan fakta dari noise (kebisingan) dan fitnah.
AI Hanyalah Alat, Bukan Rujukan Mutlak
Dalam perspektif Islam, teknologi tidak untuk ditakuti maupun disembah. Ismail mengingatkan dengan tegas bahwa AI bukanlah Tuhan, nabi, ataupun mufti yang fatwanya bisa dijadikan rujukan mutlak.
AI hanyalah alat (tool) yang nilainya sangat bergantung pada siapa yang mengendalikannya. Pertanyaan fundamentalnya saat ini adalah: Apakah AI digunakan untuk membawa maslahat atau justru mendatangkan mudarat? Oleh karena itu, adopsi teknologi ini wajib dipandu oleh prinsip moral universal Islam.
Pergeseran Peran Jurnalis: Menjaga Nurani dan Konteks
AI memang terbukti mampu mengambil alih pekerjaan teknis jurnalis, seperti menyusun draf berita atau merangkum data makro. Namun, AI tidak memiliki jiwa dan tidak bisa memikul tanggung jawab moral yang menjadi jantung dari profesi jurnalistik.
-
Dulu (Konvensional): Fokus pada pencarian bahan mentah, kecepatan mengetik, dan mengejar deadline (tenggat waktu).
-
Kini & Masa Depan (Era AI): Fokus pada verifikasi yang ketat, penyajian konteks yang mendalam, serta menjaga keadilan narasi dan nurani.
Komentar Pembaca
Komentar dikelola redaksi. Gunakan bahasa yang santun, objektif, dan tidak provokatif.

oke banget artikelnya